Mempertanggungjawabkan Amanah“ Al Quran nul karim menjelaskan bahwa segi kezaliman dan kebodohan yang sering diperbuat manusia adalah mau menerima bahkan mencari dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk mendapatkan tugas/amanah,tetapi setelah didapat tidak mau melaksanakanya atau menunaikanya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Qs Al Ahzab-72.“ Sesungguhnya kami pikulkan amanah kepada langit dan bumi dan gunung-gunung semuanya enggan memikulnya dan rasa khawatir akan kesanggupanya dan diterima oleh manusia, sayang manusia itu zalim dan jahilâ€. Firman Allah diatas menjelaskan betapa manusia itu telah diberikan kepercayaan untuk menerima amanah dari Allah Swt, yang masing-masingnya sudah menurut ukuran,kekuatan dan kedudukannya ditengah-tengah kehidupan dimuka bumi ini.
Memikul amanah yang harus dipenuhi dan dipelihara untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan. Diakhir surat Al Ahzab ayat 72 diatas Allah juga mensinyalir dengan sindiran yang pedas dan tegas “Inahukanazalummamjahullam†Sesungguhnya manusia itu adalah zalim (aniaya) dan jahil (bodoh). Zalim, berarti meletakkan sesuatu sering tidak pada tempatnya,dengan kata lain suka menyelewengkan sesuatu dari ketentuan yang semestinya. Sedangkan jahil artinya,tidak mengerti sama sekali dan tidak mau mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan,dan untuk apa sesuatu itu dipergunakan atau dalam kalimat umumnya berarti bodoh,malas serta tidak mau untuk memahami sesuatu dengan serius.
Kesimpulan yang dapat kita petik dari firman Allah diatas adalah bahwa amanah dipikulkan kepada manusia untuk dipelihara,dipenuhi dan seterusnya dipertanggungjawabkan. Namun,kata Allah ada dua kelompok manusia yang tidak mau mempertanggungjawabkan amanah tersebut dialah kelompok atau golongan manusia zalim dan jahil dan sampai akhir duniapun kelompok atau golongan ini tidak akan pernah hilang kecuali Allah yang mengkehendakinya.
Betapa beratnya sangsi amanah ini,serta beratnya akibat yang akan ditimbulkan kepada manusia yang suka mensia-siakannya. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud R.a Rasulullah Saw pernah bersabda perihal amanah ini “ Terbunuh mati dalam perang fi sabilillah menghapuskan segala dosa kecuali dosa yang tidak memelihara amanah. Dihadapkan manusia kehadapan Allah di hari kemudian walaupun ia mati shahid fi sabilillah,maka diperintahkan kepadanya “bayarkanlah amanah yang diserahkan kepadamu†Dia menjawab yaa tuhanku bagaimana lagi kami menunaikannya karena kehidupan dunia telah berlalu. “Maka diperintahkan turunkanlah dia kedalam neraka†selanjutnya beliau meneruskan “ Dinampakan kepadanya amanah itu kembali seperti pada hari diserahkan padanya dulu maka, dilihat dan dikenalnya,dia turun untuk mendapatkannya kembali dan dipikulkan setengah diatas pundaknya sehingga dia telah mengira bahwa dia telah sampai kembali keluar membawa amanah itu,maka amanah itu jatuh dari pikulannya dikejarnya kembali. Demikian dia lakukan terus menerus untuk selama-lamanya.
Imam Muhammad Abduh menerangkan bahwa amanah itu adalah hasrat manusia untuk menunaikan kewajibannya dengan sempurna dalam tugas dan pekerjaan yang diserahkan padanya. Maka,setiap pribadi adalah pemegang amanah ,amanah terhadap diri sendiri, sebagai hamba Allah,dimana manusia diciptakan dengan tugas langsung yaitu menghambakan diri kepada Allah Swt. Setiap diri menerima amanah untuk memelihara diri dan fungsinya sebagai makhluk tuhan,dimana kelak di hari berbangkit diapun harus mempertanggungjawabkan kemana setiap anggota tubuhnya dipergunakan. Selanjutnya setiap diri adalah anggota masyarakat sebagai makhluk sosial,makhluk yang hidupnya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lingkungannya. Apakah dirinya sebagai anggota masyarakat tsb sudah memenuhi fungsinya dengan menjalankan amanah dengan baik dan benar ?. Sebagaimana yang telah dipesankan Rasulullah Saw bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna dan bermanfaat kepada sesama manusia. Setiap diri pasti menerima amanah tersebut,amanah terhadap keluarga sebagai ayah,sebagai ibu maupun sebagai anak masing-masing berkewajiban terhadap yang lain,kewajiban itulah yang dinamakan amanah. Apakah kewajiban atau amanah tersebut sudah kita pertanggungjawabkan atau belum. Demikian pula dengan tugas-tugas khusus ditengah masyarakat,sebagai ulama,cendikiawan,pemimpin dan pemuka masyarakat,pejabat dan pembesar dalam pemerintah negara, saudagar yang menyalurkan kebutuhan untuk orang banyak dsb,semuanya adalah pemegang amanah sesuai dengan bidang, tugas, dan fungsinya masing-masing.
Rasulullah Saw bersabda “ Setiap kamu adalah pengembala dan setiap kamu akan ditanya dan harus mempertanggungjawabkan pengembalaanya. Pemimpin dan pembesar adalah pengembala,akan diminta pertanggungjawabanya tentang gembalaanya,laki-laki adalah pengembala dalam keluarganya dia harus mempertanggungjawabkan gembalaanya ,wanita adalah pengembala dalam rumah tangga suaminya,dan dia harus mempertanggungjawabkannya pula, sampai pada pembantu rumah tanggapun adalah pengembala terhadap harta majikanya diapun harus bertanggungjawab penuh dalam gembalannya ituâ€. ( HR. Bukhari dari Ibnu Umar, Muslim dari Anas bin Malik ). Kalimat pengembala dalam hadis Beliau Saw diatas adalah sipenerima amanah dari Allah Swt. Dalam artian yang mendalam Imam Muhammad Abduh mengatakan bahwa memelihara amanah itu adalah memelihara hak yaitu, hak Allah sebagai pemberi dan hak-hak manusia sebagai pengemban. Hak, adalah sesuatu yang harus ditunaikan,hak Allah pada manusia adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh manusia terhadap Allah,dan hak manusia atau hak hamba Allah adalah sesuatu yang harus diterimanya dari orang lain dan harus ditunaikan oleh orang lain kepadanya. Kedua hak itulah yang di sebut amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Hal ini sesuai dengan yang telah Allah firmankan dalam ayat Al Quran “Wahai manusia sekalian,janganlah kamu khianati Allah dan Rasul-Nya,dan janganlah kamu khianati amanah yang diserahkan padamu padahal kamu mengetahuinyaâ€.
Pada puncaknya Rasulullah Saw menegaskan bahwa betapa utamanya memelihara amanah ini untuk keselamatan hidup umat manusia. Dan pertanda kalau amanah itu tidak terpelihara lagi bahwa dunia akan mendekati akhirnya (kiamat). Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Ibnu Umar,suatu kali sesorang laki-laki bertanya pada Rasulullah Saw Bilakah datangnya hari kiamat itu ya Rasulullah ? Beliau Saw menjawab, bila amanah sudah disia-siakan maka tunggulah kiamat itu datang, tanya laki-laki itu lagi, apa maksud mensia-siakan amanah itu ? maka menjawab Rasulullah Saw “ Bila suatu pekerjaan sudah disandarkan atau diberikan kepada yang bukan ahlinya,tunggulah kiamat itu “. Didalam memahami sepotong hadis Rasulullah diatas maupun hadis-hadis beliau yang berkorelasi dengan kiamat,sebagai mukmin kita wajib mempercayainya bahkan kiamat itu akan datang pada setiap diri manusia mungkin akan lebih awal sesuai dengan ajalnya masing-masing. Dan bila kiamat itu diartikan suatu kehancuran,memang kiamat kubra itu diawali dengan kehancuran yang setotal-totalnya. Maka,sebagai manusia yang sadar kita mengakui saat ini bahwa amanah itu tidak terpelihara lagi dan pekerjaan sudah banyak dipercayakan kepada yang bukan ahlinya dan hanya untuk mencari popularitas belaka. Kehancuran itu pasti akan datang bahkan di sebahagian daerah dinegeri ini sudah merasakannya dalam bentuk musibah dan bencana.
Beranjak dari berbagai macam musibah dan bencana yang datang silih berganti akhir-akhir ini,yang telah banyak menelan korban nyawa maupun materi yang kesemuanya adalah ulah dari manusia itu sendiri. Seperti yang dikatakan Allah Swt dalam Qs Ar Rum-41 “ Telah nampak kerusakan didaratan dan dilautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia,supaya Allah merasakan pada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,agar mereka kembali kejalan yang benar “ Begitu juga manusia sekarang, ini secara globalnya sudah banyak jauh dari Allah dan ajaran-Nya,melalaikan bahkan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya seakan sudah menjadi hal yang biasa,hidup berlebih-lebihan,boros (Hedonisme) seakan sudah menjadi tradisi dan budaya,tidak memperdulikan kaum lemah,sombong,takabur dsb bahkan kelestarian alampun sudah tidak terjaga lagi,hutan dibabat sekehendak hati yang memicu berbagai macam bencana.
Yang sangat memprihatinkan kita semua adalah mereka-mereka yang tidak berbuatpun terkena imbas atas perlakuan mereka terhadap alam ini. Namun, bagi orang yang berilmu dan beriman berbagai bentuk kesulitan didalam mengarungi kehidupan ini susah maupun senang adalah suatu ujian keimanan guna meninggikan derajatnya dimata Allah,sekaligus sebagai penghapus dosa-dosanya. Bersabda Rasulullah Saw “ Tidak seorang muslimpun yang mengalami kelelahan,kepayahan,kesusahan atau penyakit bahkan penderitaan yang disebabkan hal yang terkecil sekalipun,melainkan kesemuanya itu menjadi penebus dosanya (HR. Bukhari & Muslim). Jadi,jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim/muslimah tiada lain adalah meningkatkan mendekatkan diri pada Allah Swt serta selalu mengamalkan Al Quran dan Hadis Rasul. Dengan memperhartikan dengan seksama ayat-ayat Allah dan hadis Rasul diatas dan untuk menyingkapi kenapa negeri ini tak sepi dari azab dalam bentuk musibah dan bencana dan kesulitan multidimensi lainya. Maka, sangat perlu sekali diadakan penelitian dan introspeksi kembali kepada diri kita masing-masing,baik sebagai anggota masyarakat,sebagai hamba Allah apalagi sebagai pejabat,petugas dan pemimpin yang merima amanah dari sesama manusia. Maka pertanggungjawabannya bukan hanya terhadap manusia yang memberikan kepercayaan akan tetapi akan lebih berat dan besar pertanggungjawanya dihadapan pengadilah Allah Aza Wajalla kelak. Allah hu A’llam.
Sunday, December 19, 2010
Friday, December 10, 2010
Keutamaan sholat tahajud
Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)
Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .
Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
(Bahan (materi) di ambil dari buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” (Bimbingan
wawllahu a'lam
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)
Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .
Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
(Bahan (materi) di ambil dari buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” (Bimbingan
wawllahu a'lam
Sunday, November 21, 2010
Ciri ciri Suami pilihan
KASIH manusia sering bermusim,
sayang manusia tiada abadi.
Kasih Tuhan tiada bertepi, sayang Tuhan janji-Nya pasti.
ITULAH sedikit dari bait-bait lagu Raihan. Lantaran kasih manusia yang sering bermusim dan sayangnya yang tidak kekal lama, kita perlu sentiasa berwaspada terutamanya dalam memilih pasangan. Andainya sedikit daripada cinta itu hendak diberi pada seseorang yang boleh digelar suami, secara ringkas pilihlah seorang lelaki yang…
Kuat agamanya
Biar sibuk sekalipun, solat fardu tetap terpelihara. Utamakanlah pemuda yang taat pengamalan agamanya. Lihat saja Rasulullah menerima pinangan Saidina Ali buat puterinya Fatimah. Lantaran ketaqwaannya yang tinggi biarpun dia pemuda paling miskin. Utamakanlah pemuda yang jujur membimbing dan memelihara iman anda.
Baik akhlaknya
Ketegasannya nyata tetapi dia lembut dan bertolak-ansur hakikatnya. Sopan tutur kata gambaran peribadi dan hati yang mulia. Rasa hormatnya pada warga tua ketara. Mudah di bawa berbincang. Tidak terlalu berahsia.
Tegas mempertahankan maruah
Pernahkah dia menjengah ke tempat-tempat yang menjatuhkan kredibiliti dan maruahnya sebagai seorang Islam? Adakah dia jujur sebagai pelindung maruah seorang perempuan?
Amanah
Jika dia pernah mengabaikan tugas yang diberi dengan sengaja ditambah pula salah guna kuasa, lupakan saja si dia.
Pemurah tetapi tidak boros
Dia bukanlah kedekut tapi tahu membelanjakan wang dan harta dengan bijaksana. Setiap nikmat yang ada dikongsi bersama mereka yang berhak.
Tidak liar matanya
Perhatikan apakah matanya kerap meliar ke arah perempuan lain yang lalu-lalang ketika berbicara. Jika ya jawabnya, dia bukanlah calon yang sesuai buat kamu.
Terbatas pergaulan
Sebagai lelaki dia tahu dia tidak mudah jadi fitnah orang, tetapi dia tidak mengamalkan cara hidup bebas.
Rakan pergaulannya
Rakan2 pergaulannya adalah mereka yang sepertinya. Sebaik-baik teman adalah teman yang soleh.
Bertanggungjawab
Rasa tanggungjawabnya dapat diukur kepada sejauh mana dia memperuntukkan dirinya untuk ibu bapa dan ahli keluarganya. Jika ibubapanya hidup melarat sedang dia hidup hebat, nyata dia tidak bertanggungjawab.
Tenang wajah
Apa yang tersimpan dalam sanubari kadang2 terpancar pada air muka. Wajahnya tenang, setenang sewaktu dia berkata dan bertindak.
sayang manusia tiada abadi.
Kasih Tuhan tiada bertepi, sayang Tuhan janji-Nya pasti.
ITULAH sedikit dari bait-bait lagu Raihan. Lantaran kasih manusia yang sering bermusim dan sayangnya yang tidak kekal lama, kita perlu sentiasa berwaspada terutamanya dalam memilih pasangan. Andainya sedikit daripada cinta itu hendak diberi pada seseorang yang boleh digelar suami, secara ringkas pilihlah seorang lelaki yang…
Kuat agamanya
Biar sibuk sekalipun, solat fardu tetap terpelihara. Utamakanlah pemuda yang taat pengamalan agamanya. Lihat saja Rasulullah menerima pinangan Saidina Ali buat puterinya Fatimah. Lantaran ketaqwaannya yang tinggi biarpun dia pemuda paling miskin. Utamakanlah pemuda yang jujur membimbing dan memelihara iman anda.
Baik akhlaknya
Ketegasannya nyata tetapi dia lembut dan bertolak-ansur hakikatnya. Sopan tutur kata gambaran peribadi dan hati yang mulia. Rasa hormatnya pada warga tua ketara. Mudah di bawa berbincang. Tidak terlalu berahsia.
Tegas mempertahankan maruah
Pernahkah dia menjengah ke tempat-tempat yang menjatuhkan kredibiliti dan maruahnya sebagai seorang Islam? Adakah dia jujur sebagai pelindung maruah seorang perempuan?
Amanah
Jika dia pernah mengabaikan tugas yang diberi dengan sengaja ditambah pula salah guna kuasa, lupakan saja si dia.
Pemurah tetapi tidak boros
Dia bukanlah kedekut tapi tahu membelanjakan wang dan harta dengan bijaksana. Setiap nikmat yang ada dikongsi bersama mereka yang berhak.
Tidak liar matanya
Perhatikan apakah matanya kerap meliar ke arah perempuan lain yang lalu-lalang ketika berbicara. Jika ya jawabnya, dia bukanlah calon yang sesuai buat kamu.
Terbatas pergaulan
Sebagai lelaki dia tahu dia tidak mudah jadi fitnah orang, tetapi dia tidak mengamalkan cara hidup bebas.
Rakan pergaulannya
Rakan2 pergaulannya adalah mereka yang sepertinya. Sebaik-baik teman adalah teman yang soleh.
Bertanggungjawab
Rasa tanggungjawabnya dapat diukur kepada sejauh mana dia memperuntukkan dirinya untuk ibu bapa dan ahli keluarganya. Jika ibubapanya hidup melarat sedang dia hidup hebat, nyata dia tidak bertanggungjawab.
Tenang wajah
Apa yang tersimpan dalam sanubari kadang2 terpancar pada air muka. Wajahnya tenang, setenang sewaktu dia berkata dan bertindak.
Ciri _ciri wanita sholihah
Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita menerima gelaran solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat iaitu :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada mahram bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
- Tidak bermasam muka di hadapan suami
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairanlah jika banyak wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: ertinya:
” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”
Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia.
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya
” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir.”
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat iaitu :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada mahram bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
- Tidak bermasam muka di hadapan suami
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairanlah jika banyak wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: ertinya:
” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”
Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia.
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya
” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir.”
Monday, November 15, 2010
Hukum bagi para dukun
Allah Ta’ala berfirman:
قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)
Dari sebagian para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230)
Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad no. 9171)
Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata;
سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
“Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai dukun-dukun, lalu beliau menjawab: “Mereka (para dukun) bukanlah apa-apa.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Terkadang apa yang mereka ceritakan adalah benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan yang nyata (benar) itu adalah perkataan yang dicuri oleh jin, kemudian dia membisikkannya ke telinga walinya (dukun) lalu mereka mencampuradukkan bersama kebenaran itu dengan seratus kedustaan.” (HR. Al-Bukhari no. 5762 dan Muslim no. 2228)
Penjelasan ringkas:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Al-arraf (dukun) adalah nama bagi al-kahin (peramal), munajjim (ahli nujum), ar-rammal (tukang tenung), dan semisalnya mereka dari orang-orang yang berbicara dalam masalah ghaib dengan metode-metode semacam itu.” (Kitab Tauhid, Bab: Keterangan Tentang Dukun dan Semisal Mereka)
Maka ini adalah keterangan dari Ibnu Taimiah bahwa semua orang yang mengklaim mengetahui perkara ghaib maka dia adalah dukun. Karenanya walaupun gelarnya dirubah menjadi ustadz, atau kyai, atau para normal (yang sebenarnya orangnya tidak normal), orang pintar (padahal orang bodoh), magician, ki, madam, atau gelar-gelar lainnya, maka dia tetaplah seorang dukun yang berlaku padanya hukum-hukum selama dia mengaku mengetahui perkara ghaib. Karena hakikat dan hukum tidak akan berubah dengan berubahnya nama, yakni: Selama hakikat dari sesuatu itu sama maka hukumnya juga sama walaupun namanya berbeda.
Maka perkara ghaib merupakan hak Allah Ta’ala semata, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya baik dari kalangan malaikat maupun para Nabi. Karenanya barangsiapa yang mengaku mengetahuinya maka dia adalah dukun walaupun sesekali dia berkata benar. Al-Qur`an telah menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah, karenanya barangsiapa yang mengklaimnya atau meyakini ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib maka sungguh dia telah kafir karena telah mendustakan Al-Qur`an, dan itu menyebabkan dirinya keluar dari agama Islam, wal ‘iyadzu billah. Sisi kekafiran dukun yang lain adalah karena dia menggunakan bantuan jin dalam mencuri berita dari langit, dan tentunya jin tidak akan membantunya kecuali setelah dia kafir atau musyrik, misalnya dia harus menyembelih untuk selain Allah, meninggalkan shalat, menghinakan mushaf, dan semacamnya.
Ini hukum bagi dukunnya, adapun bagi langganannya maka jika dia bertanya tapi tidak membenarkannya maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam. Tapi jika dia mempercayai dan membenarkan ucapan dukun maka dia juga kafir sebagaimana kafirnya dukun tersebut.
Jika ada yang bertanya: Bukankah terkadang ramalan mereka benar? Maka Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menjawabnya sebagaimana di atas, bahwa ramalan mereka asalnya adalah kalimat yang benar tapi ditambahkan oleh jin-jin dengan 100 kedustaan. Karenanya perbandingan benar dan salahnya adalah 1 banding 99, tapi ironisnya para langganan hanya memperhitungkan kalau dukun itu pernah benar dan sama sekali tidak memperhitungkan sudah sangat banyaknya kesalahan mereka. Jadi, kita tidak boleh bertanya kepada mereka bukan hanya karena kebanyakan kabar mereka adalah dusta, tapi kita tidak boleh bertanya karena dilarang oleh syariat, terserah kabar mereka benar atau salah.
Tambahan keterangan:
Maksud ‘tidak diterima shalatnya selama 40 malam’ adalah bahwa shalatnya selama 40 hari syah sehingga dia tidak perlu mengulangnya, hanya saja pahala shalatnya selama 40 malam itu terhapus dengan dosa dia bertanya kepada dukun. Jadi ketika shalatnya tidak diterima bukan berarti dia tidak perlu shalat, karena itu hanya akan menambah dosanya. Jadi saking besarnya dosa sekedar bertanya kepada dukun sampai dosanya seimbang dengan pahala 40 hari shalat.
Bertanya kepada dukun sama saja hukumnya baik dia yang mendatangi dukun maupun dukun yang datang ke tempatnya. Karenanya termasuk bertanya kepada dukun adalah membaca ramalan nasib (shio dan zodiak) dan atau mendengarnya melalui radio atau menyaksikan ramalan melaui TV, semuanya masuk dalam kategori bertanya kepada dukun dan shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari. Demikian diterangkan oleh Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh dalam syarah beliau terhadap kitab At-Tauhid.
Hukum bertanya kepada dukun:
Jika dia bertanya (membaca atau menonton) hanya sekedar ingin tahu atau hanya iseng-iseng atau penasaran tapi dia tidak membenarkan ramalannya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.
Jika dia melakukannya karena mempercayai ramalannya maka dia telah kafir.
Jika dia melakukannya untuk mengungkap kedustaan dan kebatilan dukun, maka itu termasuk jihad dan nahi mungkar selama dia yakin bisa membuktikannya. Sebagaimana yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- lakukan tatkala beliau bertanya masalah ghaib kepada Ibnu Shayyad guna mengetahui hakikat keadaan dirinya, dan akhirnya Nampak bagi beliau bahwa dia hanyalah seorang dukun.
قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)
Dari sebagian para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230)
Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad no. 9171)
Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata;
سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
“Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai dukun-dukun, lalu beliau menjawab: “Mereka (para dukun) bukanlah apa-apa.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Terkadang apa yang mereka ceritakan adalah benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan yang nyata (benar) itu adalah perkataan yang dicuri oleh jin, kemudian dia membisikkannya ke telinga walinya (dukun) lalu mereka mencampuradukkan bersama kebenaran itu dengan seratus kedustaan.” (HR. Al-Bukhari no. 5762 dan Muslim no. 2228)
Penjelasan ringkas:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Al-arraf (dukun) adalah nama bagi al-kahin (peramal), munajjim (ahli nujum), ar-rammal (tukang tenung), dan semisalnya mereka dari orang-orang yang berbicara dalam masalah ghaib dengan metode-metode semacam itu.” (Kitab Tauhid, Bab: Keterangan Tentang Dukun dan Semisal Mereka)
Maka ini adalah keterangan dari Ibnu Taimiah bahwa semua orang yang mengklaim mengetahui perkara ghaib maka dia adalah dukun. Karenanya walaupun gelarnya dirubah menjadi ustadz, atau kyai, atau para normal (yang sebenarnya orangnya tidak normal), orang pintar (padahal orang bodoh), magician, ki, madam, atau gelar-gelar lainnya, maka dia tetaplah seorang dukun yang berlaku padanya hukum-hukum selama dia mengaku mengetahui perkara ghaib. Karena hakikat dan hukum tidak akan berubah dengan berubahnya nama, yakni: Selama hakikat dari sesuatu itu sama maka hukumnya juga sama walaupun namanya berbeda.
Maka perkara ghaib merupakan hak Allah Ta’ala semata, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya baik dari kalangan malaikat maupun para Nabi. Karenanya barangsiapa yang mengaku mengetahuinya maka dia adalah dukun walaupun sesekali dia berkata benar. Al-Qur`an telah menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah, karenanya barangsiapa yang mengklaimnya atau meyakini ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib maka sungguh dia telah kafir karena telah mendustakan Al-Qur`an, dan itu menyebabkan dirinya keluar dari agama Islam, wal ‘iyadzu billah. Sisi kekafiran dukun yang lain adalah karena dia menggunakan bantuan jin dalam mencuri berita dari langit, dan tentunya jin tidak akan membantunya kecuali setelah dia kafir atau musyrik, misalnya dia harus menyembelih untuk selain Allah, meninggalkan shalat, menghinakan mushaf, dan semacamnya.
Ini hukum bagi dukunnya, adapun bagi langganannya maka jika dia bertanya tapi tidak membenarkannya maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam. Tapi jika dia mempercayai dan membenarkan ucapan dukun maka dia juga kafir sebagaimana kafirnya dukun tersebut.
Jika ada yang bertanya: Bukankah terkadang ramalan mereka benar? Maka Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menjawabnya sebagaimana di atas, bahwa ramalan mereka asalnya adalah kalimat yang benar tapi ditambahkan oleh jin-jin dengan 100 kedustaan. Karenanya perbandingan benar dan salahnya adalah 1 banding 99, tapi ironisnya para langganan hanya memperhitungkan kalau dukun itu pernah benar dan sama sekali tidak memperhitungkan sudah sangat banyaknya kesalahan mereka. Jadi, kita tidak boleh bertanya kepada mereka bukan hanya karena kebanyakan kabar mereka adalah dusta, tapi kita tidak boleh bertanya karena dilarang oleh syariat, terserah kabar mereka benar atau salah.
Tambahan keterangan:
Maksud ‘tidak diterima shalatnya selama 40 malam’ adalah bahwa shalatnya selama 40 hari syah sehingga dia tidak perlu mengulangnya, hanya saja pahala shalatnya selama 40 malam itu terhapus dengan dosa dia bertanya kepada dukun. Jadi ketika shalatnya tidak diterima bukan berarti dia tidak perlu shalat, karena itu hanya akan menambah dosanya. Jadi saking besarnya dosa sekedar bertanya kepada dukun sampai dosanya seimbang dengan pahala 40 hari shalat.
Bertanya kepada dukun sama saja hukumnya baik dia yang mendatangi dukun maupun dukun yang datang ke tempatnya. Karenanya termasuk bertanya kepada dukun adalah membaca ramalan nasib (shio dan zodiak) dan atau mendengarnya melalui radio atau menyaksikan ramalan melaui TV, semuanya masuk dalam kategori bertanya kepada dukun dan shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari. Demikian diterangkan oleh Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh dalam syarah beliau terhadap kitab At-Tauhid.
Hukum bertanya kepada dukun:
Jika dia bertanya (membaca atau menonton) hanya sekedar ingin tahu atau hanya iseng-iseng atau penasaran tapi dia tidak membenarkan ramalannya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.
Jika dia melakukannya karena mempercayai ramalannya maka dia telah kafir.
Jika dia melakukannya untuk mengungkap kedustaan dan kebatilan dukun, maka itu termasuk jihad dan nahi mungkar selama dia yakin bisa membuktikannya. Sebagaimana yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- lakukan tatkala beliau bertanya masalah ghaib kepada Ibnu Shayyad guna mengetahui hakikat keadaan dirinya, dan akhirnya Nampak bagi beliau bahwa dia hanyalah seorang dukun.
Wednesday, November 10, 2010
Let's talk about love love love n love
Bismillaahir rohmanir rohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.
Duhai saudara-saudariku tercinta rahimakumullaah…
Subhanallah… ternyata dari 60 detik, ke 60 menit, ke 24 jam, dan ke 7 hari itu sangatlah singkat. Dari detik dan waktu itu, insyaAllah masing-masing kita akan mengetahui suatu bentuk perubahan.
♥ Bisa jadi sebelumnya ia tidak saling mengenal, ternyata saat ini mereka bersahabat.
Itulah PERTEMUAN.
♥ Bisa jadi sebelumnya ia hanya mampu membayangkan bagaimana suasana di sekitar Ka’bah melalui gambar-gambar yang di saksikannya, ternyata saat ini ia baru saja pulang dari Makkah untuk berhaji atau sekadar umroh.
Itulah LANGKAH.
♥ Bisa jadi kemarin dulu ia adalah seorang bujangan, ternyata hari ini ia sedang memandangi wajah istrinya yang tertidur lelap, setelah seharian mengurus anak-anaknya yang masih kecil..
Itulah JODOH.
♥ Bisa jadi ketika itu ia sangat bingung mencari dana untuk membiayai sekolah anaknya, ternyata sekarang ia sudah menyekolahkan 30 orang anak yatim-piatu hingga ke perguruan tinggi.
Itulah RIZKI.
♥ Bisa jadi kemarin kita masih bersenda gurau di sini, ternyata salah seorang di antara kita telah tiada hari ini..
Dan itulah MAUT….
MasyaAllah, sungguh semua itu terjadi oleh karena CINTA Allah ta’ala atas segala kehendak-Nya. Adakah pula kita mencintai segala sesuatu itu karena DIA? Maka hanya pecinta sejati (Allah lover) yang cenderung memiliki kemampuan mencerna dan menerima setiap dua pilihan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujuraat {49}:7).
Saudara-saudariku yang sungguh kucintai karena Allah…
Ketika sepasang kekasih sedang berkhalwat (di malam minggu), lalu mereka tampak begitu mesra dan saling memberikan perhatian secara khusus, lantas orang-orang “modern” pada umumnya itu pun berkeyakinan dan menyatakan, “Ooh betapa indah dan romantisnya mereka, begitulah cinta yang sejati..”
Benarkah? Sesempit itukah!? Padahal… Hmm, let’s talk about ♥L.O.V.E♥.
Onta diam bersama dengan pasangannya karena cinta. Anak kecil menyusu pada ibunya karena cinta. Burung membangun sarangnya dengan cinta. Cinta membuat wajah bersinar cemerlang, bibir merekah dengan senyuman, mata menjadi bercahaya. Dengan cinta terjadi rangkulan, dekapan dan rasa kasih.
Cinta adalah hakim di mahkamah dunia. Ia akan berpihak kepada orang-orang yang dicintai walaupun dia melanggar. Ia akan mengambil keputusan untuk kemaslahatan orang-orang yang dicintai, meskipun dia zhalim. Kepala dipenggal dan jatuh menggelinding di atas tanah, seperti jatuhnya uang receh, karena cinta kepada prinsip. Jiwa melayang ditebas tajamnya pedang, karena pemiliknya demikian cinta pada risalah yang diyakininya.
Para sahabat mencintai manhaj Islam dan pemilik manhaj itu. Mereka mencintai risalah Islam dan sosok yang membawanya. Mereka demikian cinta kepada wahyu dan Dzat yang menurunkannya. Mereka rela berjibaku di depan tombak-tombak karena mereka mengharap ridha Allah saat perang Badar, Uhud, dan Hunain. mereka meninggalkan makanan, minuman, dan syahwat ditengah-tengah udara panas di Makkah dan Medinnah. Mereka rela untuk tidak menempelkan punggungnya di tempat-tempat tidur pada sepertiga malam terakhir. Mereka rela menginfakkan barang-barang paling berharga hanya demi mencapai kerelaan Sang Kekasih.
Dengan cinta Haram bin Mulhan berteriak, “Aku menang, demi Rabb Ka’bah.” Dengan cinta Umair bin Hammam berteriak nyaring untuk secepatnya menuju surga, “Sesungguhnya hidup ini demikian panjang jika aku masih hidup dan masih sempat makan buah kurma ini.” Dengan cinta Abdullah bin ‘Amr Al-Anshari berteriak demikian lantang, ‘Ya Allah ambillah darahku hari ini sehingga membuat-Mu ridha.”
Saat Ibrahim Al-Khalil mencintai Allah, maka api yang berkobar menjadi dingin dan damai.
Kala Musa Al-Karim mencintai Rabb-nya, maka air laut membelah diri agar Musa bisa berjalan di tengah-tengahnya.
Tatkala sang penutup para nabi mencintai Khalik-Nya pohon kurma merunduk dan bulan menjadi terbelah.
Bagi orang yang mencinta, adzab akan terasa nikmat dan kesyahidan laksana madu. Sebab ia sedang mencinta!!
Dengan cinta, orang yang tidur bangkit dan melempar selimut hangatnya kala shalat fajar menjelang. Dengan cinta, seorang panglima perang maju tanpa memperdulikan hidupnya. Dengan cinta, air mata meluncur dari kelopak mata. Dengan cinta hati menjadi sedih, dan lisan tak berkata kecuali kata yang diridhoi-Nya. Cinta itu laksana aliran listrik yang mengalir di kawat-kawat yang kemudian memancarkan cahaya kemilau. Dia adalah aliran yang sampai pada raga yang memunculkan kehangatan. Dia adalah aliran yang menyentuh sesuatu lalu kemudian memancarkan kilatan. Cinta itu laksana gravitasi yang dengannya falak bergerak. Dengannya, benda-benda langit beriringan rapi. Dengannya, galaksi berotasi sehingga tak terjadi benturan di antara bintang-bintang. Planet-planet terus berada dalam rotasinya sehingga tidak terjadi benturan.
Tatkala cinta terputus, maka kekacauan akan terjadi disemesta, keraguan dan buruk sangka akan muncul dalam jiwa, kekeruhan akan terlihat di wajah. Kala cinta berakhir, seorang siswa tak akan lagi mengerti apa yang diucapkan gurunya walau kata-kata fasih dan jelas. Kala cinta telah pupus, tak ada lagi ketaatan seorang istri pada suaminya walaupun ia hanya diminta untuk menghidangkan segelas air. Kala cinta berakhir, tak ada lagi kisah seorang ayah pada anaknya walaupun ia berada di bawah ancaman singa. Kala cinta berakhir, perang akan berkobar, api perang akan menyala, benteng-benteng akan di hancurkan, pagar-pagar pembatas akan diguncangkan dan jiwa-jiwa serta harta akan melayang. Tatkala cinta berakhir, maka dunia akan menjadi datar. Kesepakatan akan menjadi lembaran-lembaran kosong, bukti-bukti menjadi dongeng-dongeng, idealisme menjadi kebohongan.
Tak ada hidup tanpa cinta, tak ada keabadian tanpa cinta. Sebaliknya, jika engkau mencinta, maka engkau akan mampu menghirup wangi bunga, mampu merasakan lembutnya sutra, bisa mencicipi manisnya madu, menikmati ‘dinginnya’ sehat. Jika engkau mencinta, maka engkau akan mendapatkan semulia-mulia ilmu, dan akan mengerti rahasia-rahasia sesuatu.
Namun jika engkau membenci, maka setiap kata akan terasa menusuk dada, setiap gerak dan tindakan akan selalu di curigai. Setiap kebaikan dianggap kejahatan dan sebaliknya kejahatan dianggap sebagai kebaikan. Bagi orang yang mencintai, usiran adalah panggilan, kemarahan adalah ridha, dosanya adalah kebaikan dan kesalahan adalah kebenaran.
Maka CINTA seperti apakah yang hendak engkau kumpulkan selama masa persinggahan yang sebentar ini…?
♥♥♥♥♥♥
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.
Duhai saudara-saudariku tercinta rahimakumullaah…
Subhanallah… ternyata dari 60 detik, ke 60 menit, ke 24 jam, dan ke 7 hari itu sangatlah singkat. Dari detik dan waktu itu, insyaAllah masing-masing kita akan mengetahui suatu bentuk perubahan.
♥ Bisa jadi sebelumnya ia tidak saling mengenal, ternyata saat ini mereka bersahabat.
Itulah PERTEMUAN.
♥ Bisa jadi sebelumnya ia hanya mampu membayangkan bagaimana suasana di sekitar Ka’bah melalui gambar-gambar yang di saksikannya, ternyata saat ini ia baru saja pulang dari Makkah untuk berhaji atau sekadar umroh.
Itulah LANGKAH.
♥ Bisa jadi kemarin dulu ia adalah seorang bujangan, ternyata hari ini ia sedang memandangi wajah istrinya yang tertidur lelap, setelah seharian mengurus anak-anaknya yang masih kecil..
Itulah JODOH.
♥ Bisa jadi ketika itu ia sangat bingung mencari dana untuk membiayai sekolah anaknya, ternyata sekarang ia sudah menyekolahkan 30 orang anak yatim-piatu hingga ke perguruan tinggi.
Itulah RIZKI.
♥ Bisa jadi kemarin kita masih bersenda gurau di sini, ternyata salah seorang di antara kita telah tiada hari ini..
Dan itulah MAUT….
MasyaAllah, sungguh semua itu terjadi oleh karena CINTA Allah ta’ala atas segala kehendak-Nya. Adakah pula kita mencintai segala sesuatu itu karena DIA? Maka hanya pecinta sejati (Allah lover) yang cenderung memiliki kemampuan mencerna dan menerima setiap dua pilihan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujuraat {49}:7).
Saudara-saudariku yang sungguh kucintai karena Allah…
Ketika sepasang kekasih sedang berkhalwat (di malam minggu), lalu mereka tampak begitu mesra dan saling memberikan perhatian secara khusus, lantas orang-orang “modern” pada umumnya itu pun berkeyakinan dan menyatakan, “Ooh betapa indah dan romantisnya mereka, begitulah cinta yang sejati..”
Benarkah? Sesempit itukah!? Padahal… Hmm, let’s talk about ♥L.O.V.E♥.
Onta diam bersama dengan pasangannya karena cinta. Anak kecil menyusu pada ibunya karena cinta. Burung membangun sarangnya dengan cinta. Cinta membuat wajah bersinar cemerlang, bibir merekah dengan senyuman, mata menjadi bercahaya. Dengan cinta terjadi rangkulan, dekapan dan rasa kasih.
Cinta adalah hakim di mahkamah dunia. Ia akan berpihak kepada orang-orang yang dicintai walaupun dia melanggar. Ia akan mengambil keputusan untuk kemaslahatan orang-orang yang dicintai, meskipun dia zhalim. Kepala dipenggal dan jatuh menggelinding di atas tanah, seperti jatuhnya uang receh, karena cinta kepada prinsip. Jiwa melayang ditebas tajamnya pedang, karena pemiliknya demikian cinta pada risalah yang diyakininya.
Para sahabat mencintai manhaj Islam dan pemilik manhaj itu. Mereka mencintai risalah Islam dan sosok yang membawanya. Mereka demikian cinta kepada wahyu dan Dzat yang menurunkannya. Mereka rela berjibaku di depan tombak-tombak karena mereka mengharap ridha Allah saat perang Badar, Uhud, dan Hunain. mereka meninggalkan makanan, minuman, dan syahwat ditengah-tengah udara panas di Makkah dan Medinnah. Mereka rela untuk tidak menempelkan punggungnya di tempat-tempat tidur pada sepertiga malam terakhir. Mereka rela menginfakkan barang-barang paling berharga hanya demi mencapai kerelaan Sang Kekasih.
Dengan cinta Haram bin Mulhan berteriak, “Aku menang, demi Rabb Ka’bah.” Dengan cinta Umair bin Hammam berteriak nyaring untuk secepatnya menuju surga, “Sesungguhnya hidup ini demikian panjang jika aku masih hidup dan masih sempat makan buah kurma ini.” Dengan cinta Abdullah bin ‘Amr Al-Anshari berteriak demikian lantang, ‘Ya Allah ambillah darahku hari ini sehingga membuat-Mu ridha.”
Saat Ibrahim Al-Khalil mencintai Allah, maka api yang berkobar menjadi dingin dan damai.
Kala Musa Al-Karim mencintai Rabb-nya, maka air laut membelah diri agar Musa bisa berjalan di tengah-tengahnya.
Tatkala sang penutup para nabi mencintai Khalik-Nya pohon kurma merunduk dan bulan menjadi terbelah.
Bagi orang yang mencinta, adzab akan terasa nikmat dan kesyahidan laksana madu. Sebab ia sedang mencinta!!
Dengan cinta, orang yang tidur bangkit dan melempar selimut hangatnya kala shalat fajar menjelang. Dengan cinta, seorang panglima perang maju tanpa memperdulikan hidupnya. Dengan cinta, air mata meluncur dari kelopak mata. Dengan cinta hati menjadi sedih, dan lisan tak berkata kecuali kata yang diridhoi-Nya. Cinta itu laksana aliran listrik yang mengalir di kawat-kawat yang kemudian memancarkan cahaya kemilau. Dia adalah aliran yang sampai pada raga yang memunculkan kehangatan. Dia adalah aliran yang menyentuh sesuatu lalu kemudian memancarkan kilatan. Cinta itu laksana gravitasi yang dengannya falak bergerak. Dengannya, benda-benda langit beriringan rapi. Dengannya, galaksi berotasi sehingga tak terjadi benturan di antara bintang-bintang. Planet-planet terus berada dalam rotasinya sehingga tidak terjadi benturan.
Tatkala cinta terputus, maka kekacauan akan terjadi disemesta, keraguan dan buruk sangka akan muncul dalam jiwa, kekeruhan akan terlihat di wajah. Kala cinta berakhir, seorang siswa tak akan lagi mengerti apa yang diucapkan gurunya walau kata-kata fasih dan jelas. Kala cinta telah pupus, tak ada lagi ketaatan seorang istri pada suaminya walaupun ia hanya diminta untuk menghidangkan segelas air. Kala cinta berakhir, tak ada lagi kisah seorang ayah pada anaknya walaupun ia berada di bawah ancaman singa. Kala cinta berakhir, perang akan berkobar, api perang akan menyala, benteng-benteng akan di hancurkan, pagar-pagar pembatas akan diguncangkan dan jiwa-jiwa serta harta akan melayang. Tatkala cinta berakhir, maka dunia akan menjadi datar. Kesepakatan akan menjadi lembaran-lembaran kosong, bukti-bukti menjadi dongeng-dongeng, idealisme menjadi kebohongan.
Tak ada hidup tanpa cinta, tak ada keabadian tanpa cinta. Sebaliknya, jika engkau mencinta, maka engkau akan mampu menghirup wangi bunga, mampu merasakan lembutnya sutra, bisa mencicipi manisnya madu, menikmati ‘dinginnya’ sehat. Jika engkau mencinta, maka engkau akan mendapatkan semulia-mulia ilmu, dan akan mengerti rahasia-rahasia sesuatu.
Namun jika engkau membenci, maka setiap kata akan terasa menusuk dada, setiap gerak dan tindakan akan selalu di curigai. Setiap kebaikan dianggap kejahatan dan sebaliknya kejahatan dianggap sebagai kebaikan. Bagi orang yang mencintai, usiran adalah panggilan, kemarahan adalah ridha, dosanya adalah kebaikan dan kesalahan adalah kebenaran.
Maka CINTA seperti apakah yang hendak engkau kumpulkan selama masa persinggahan yang sebentar ini…?
♥♥♥♥♥♥
Monday, November 1, 2010
Untuk para suami
بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Wanita mana yang tidak mendambakan seorang lelaki yang kelak dapat menjadi sandaran hidupnya, mampu membimbing dan mendidiknya untuk menjadi wanita terbaik dan shalihah bukan saja hanya untuk suaminya, tetapi terbaik untuk Allah subhanahu wata’ala. Suami yang selalu memotivasinya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan selalu istiqamah di jalan-Nya.
1. Hendaklah seorang suami senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempergauli dan memperlakukan istrinya. Karena ia adalah amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perlakukanlah wanita-wanita itu dengan baik”. (Muttafaq ‘alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat zhalim terhadap wanita. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang (orang yang menzhalimi) hak dua golongan yang lemah, yakni: Anak yatim dan wanita.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
2. Hendaklah seorang suami memiliki perangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istrinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang mu’min membenci seorang mu’minah, jika ia tidak menyukai suatu perangai nya, maka ia akan menyukai perangai yang lain dari dirinya.” (HR. Muslim).
Hendaklah seorang suami banyak bersabar dan baik dalam bermu’amalah dengan istrinya. Maka sebaik-baik kalian adalah yang menjaga persahabatan dan kasih sayang! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku”. (HR. Ibnu Majah)
4. Hendaklah seorang suami memiliki kecemburuan terhadap istrinya, tetapi tidak berlebihan, sehingga berburuk sangka kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kalian merasa kagum/heran dengan ghirah (rasa cemburu)nya Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.” (HR.Muslim).
Hendaklah seorang suami bersikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, melainkan ia akan memperbu-ruknya.” (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia menyukai kelembutan di dalam semua perkara.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
6. Hendaklah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya dengan ma’ruf (layak). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)
(maksudnya: tidak kurang dan tidak berlebihan, pent.)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
7. Hendaklah seorang suami mempelajari fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui cara menggauli istrinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajarkan kepada istrinya tentang masalah tersebut, jika ia belum mengetahuinya.
8. Hendaklah seorang suami mengerti, bahwasannya tidak boleh baginya berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya waktu haidh, dan tidak pula pada duburnya. Dan dibolehkan baginya untuk bermesra-mesraan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima’ (bersetubuh), karena hal tersebut diharamkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:”Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 222-223)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah subhanahu wata’ala tidak memandang seorang lelaki yang menggauli lelaki lain atau seorang wanita melalui dubur”. (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Di antara etika melakukan jima’: Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan berdo’a), bersenda gurau, berpelukan, mencium sebelum melakukannya. Karena hal itu lebih dapat memberikan kepuasan bagi suami dan istri. Dan jika seorang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istri mendapatkan haknya. Dan barangsiapa yang ingin mengulanginya (jima’), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Jika salah seorang di antara kalian akan menyetubuhi istrinya mengucapkan (berdoa), “Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Maka niscaya setan tidak akan mencelakakan anak (hasil) dari keduanya selama-lamanya.”(Muttafaq ‘alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim)
9. Hendaklah seorang suami menjauhkan diri dari menyebarkanluaskan rahasia-rahasia hubungan suami-istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia sebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim).
Suatu ketika dikatakan kepada sebagian orang-orang shalih yang ingin menceraikan istrinya, “Apa yang membuatmu ragu kepada istrimu?” Lalu ia menjawab, “Orang yang berakal tak akan membuka rahasia.” Maka tatkala ia telah menceraikannya, ia pun kembali ditanya, “Mengapa kamu menceraikannya?”. Lalu ia pun menja-wab, “Apa urusanku/ hakku dengan istri orang lain?
untuk para çalon suamı :))
Barrokallahu fikum
Wanita mana yang tidak mendambakan seorang lelaki yang kelak dapat menjadi sandaran hidupnya, mampu membimbing dan mendidiknya untuk menjadi wanita terbaik dan shalihah bukan saja hanya untuk suaminya, tetapi terbaik untuk Allah subhanahu wata’ala. Suami yang selalu memotivasinya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan selalu istiqamah di jalan-Nya.
1. Hendaklah seorang suami senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempergauli dan memperlakukan istrinya. Karena ia adalah amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perlakukanlah wanita-wanita itu dengan baik”. (Muttafaq ‘alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat zhalim terhadap wanita. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang (orang yang menzhalimi) hak dua golongan yang lemah, yakni: Anak yatim dan wanita.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
2. Hendaklah seorang suami memiliki perangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istrinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang mu’min membenci seorang mu’minah, jika ia tidak menyukai suatu perangai nya, maka ia akan menyukai perangai yang lain dari dirinya.” (HR. Muslim).
Hendaklah seorang suami banyak bersabar dan baik dalam bermu’amalah dengan istrinya. Maka sebaik-baik kalian adalah yang menjaga persahabatan dan kasih sayang! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku”. (HR. Ibnu Majah)
4. Hendaklah seorang suami memiliki kecemburuan terhadap istrinya, tetapi tidak berlebihan, sehingga berburuk sangka kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kalian merasa kagum/heran dengan ghirah (rasa cemburu)nya Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.” (HR.Muslim).
Hendaklah seorang suami bersikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, melainkan ia akan memperbu-ruknya.” (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia menyukai kelembutan di dalam semua perkara.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
6. Hendaklah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya dengan ma’ruf (layak). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)
(maksudnya: tidak kurang dan tidak berlebihan, pent.)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
7. Hendaklah seorang suami mempelajari fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui cara menggauli istrinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajarkan kepada istrinya tentang masalah tersebut, jika ia belum mengetahuinya.
8. Hendaklah seorang suami mengerti, bahwasannya tidak boleh baginya berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya waktu haidh, dan tidak pula pada duburnya. Dan dibolehkan baginya untuk bermesra-mesraan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima’ (bersetubuh), karena hal tersebut diharamkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:”Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 222-223)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah subhanahu wata’ala tidak memandang seorang lelaki yang menggauli lelaki lain atau seorang wanita melalui dubur”. (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Di antara etika melakukan jima’: Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan berdo’a), bersenda gurau, berpelukan, mencium sebelum melakukannya. Karena hal itu lebih dapat memberikan kepuasan bagi suami dan istri. Dan jika seorang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istri mendapatkan haknya. Dan barangsiapa yang ingin mengulanginya (jima’), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Jika salah seorang di antara kalian akan menyetubuhi istrinya mengucapkan (berdoa), “Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Maka niscaya setan tidak akan mencelakakan anak (hasil) dari keduanya selama-lamanya.”(Muttafaq ‘alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim)
9. Hendaklah seorang suami menjauhkan diri dari menyebarkanluaskan rahasia-rahasia hubungan suami-istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia sebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim).
Suatu ketika dikatakan kepada sebagian orang-orang shalih yang ingin menceraikan istrinya, “Apa yang membuatmu ragu kepada istrimu?” Lalu ia menjawab, “Orang yang berakal tak akan membuka rahasia.” Maka tatkala ia telah menceraikannya, ia pun kembali ditanya, “Mengapa kamu menceraikannya?”. Lalu ia pun menja-wab, “Apa urusanku/ hakku dengan istri orang lain?
untuk para çalon suamı :))
Barrokallahu fikum
Subscribe to:
Posts (Atom)