Tuesday, August 17, 2010

~Menghindari keraguan pada hati~

"ALLAH telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka,dan penglihatan mereka di tutup.Dan bagi mereka siksa yang amat berat"(QS,AL~BAQARAH:7)

Hati yang telah di kumci mati oleh ALLAH SWT ialah hati yang telah terselimuti kekufuran yang akut.kekufuran yang lama bersemayam dalam hati seseorang dan tidak pernah ada upaya untuk membersikannya.Akhirnya. kekufuran itu tumbuh dan berkembang menguasai hati seseorang.pada sekala ini. maka segala keterangan dan nasehat. sudah tidak mampu menembus hatinya.Berbagai keterangan,bukti dan pengalaman ruhani sekalipun. tidak lagi mampu menggerakan hatinya..kekufuran sendiri komplikasi dari berbagai penyakit hati.

Friday, May 14, 2010

Etika suami Istri

Orang Muslim meyakini adanya etika timbal balik antara suami dan istri, dan etika tersebut adalah hak atas pasangannya yang lain berdasarkan dalil-dalil berikut,
Firman Allah Ta ‘ala, "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (Al-Baqarah: 228).Ayat yang mulia di atas menegaskan, bahwa setiap suami-istri mempunyai hak atas pasangannya, dan suami (laki-laki) diberi tambahan derajat atas wanita (istri) karena alasan-alasan khusus.Sabda Rasulullah saw. di Haji Wada', "Ketahuilah, bahwa kalian mempunyai hak-hak atas wanita-wanita (istri-istri) kalian, dan sesungguhnya wanita-wanita (istri-istri) kalian mempunyai hak-hak atas kalian." (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan At-Tirmidzi men-shahih-kan hadits ini).Hak-hak ini, sebagian sama di antara suami-istri dan sebagiannya tidak sama. Hak-hak yang sama di antara suarni-istri adalah sebagian berikut:1. AmanahMasing-masing suami-istri harus bersikap amanah terhadap pasangannya, dan tidak mengkhianatinya sedikit atau banyak, karena suami istri adalah laksana dua mitra di mana pada keduanya harus ada sifat amanah, saling menasihati, jujur, dan ikhlas dalam semua urusan pribadi keduanya, dan urusan umum keduanya.2. Cinta kasihArtinya, masing-masing suami-istri harus memberikan cinta kasih yang tulus kepada pasangannya sepanjang hidupnya karena firman Allah Ta‘ala,"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (Ar-Ruum: 21).Dan karena sabda Rasulullah saw., "Barangsiapa tidak menyayangi ia tidak akan disayangi." (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).3. Saling percayaArtinya masing-masing suami-istri harus mempercayai pasangannya, dan tidak boleh meragukan kejujurannya, nasihatnya, dan keikhlasannya, karena firman Allah Ta‘ala, "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara." (Al Hujurat: 10).Dan karena sabda Rasulullah saw., "Salah seorang dan kalian tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain).Ikatan suami-istri itu memperkuat, dan mengokohkan ikatan (ukhuwwah) iman.Dengan cara seperti itu, masing-masing suami-istri merasa, bahwa dirinya adalah pribadi pasangannya. Oleh karena itu, bagaimana ia tidak mempercayai dirinya sendiri, dan tidak menasihatinya? Atau bagaimana seseorang itu kok menipu dirinya sendiri, dan memperdayainya?4. Etika umum, seperti lemah lembut dalam pergaulan sehari-hari, wajah yang berseri-seri, ucapan yang baik, penghargaan, dan penghormatan. Itulah pergaulan baik yang diperintahkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, "Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik." (An-Nisa': 19).Itulah perlakuan baik yang diperintahkan Rasulullah saw. dalam sabdanya, "Perlakukan wanita dengan baik." (HR Muslim).Inilah sebagian hak-hak bersama antar suami-istri, dan masing-masing dan keduanya harus memberikan hak-hak tersebut kepada pasangannya untuk merealisir perjanjian kuat yang diisyaratkan firman Allah Ta‘ala, "Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istri) telah mengambil dari kalian penjanjian yang kuat." (An-Nisa': 21).Dan karena taat kepada Allah Ta‘ala yang berfirman, "Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian, Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kalian kerjakan." (A1-Baqarah: 237).Adapun hak-hak khusus, dan etika-etika yang harus dikerjakan masing-masing suami-istri terhadap pasangannya adalah sebagai berikut:Hak-hak Istri atas SuamiTerhadap istrinya, seorang suami harus menjalankan etika-etika berikut ini:1. Memperlakukannya dengan baik karena dalil-dalil berikut:Firman Allah Ta‘ala, "Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik." (An-Nisa': 19).Ia memberi istrinya makan jika ia makan, memberinya pakaian jika ia berpakaian, dan mendidiknya jika ia khawatir istrinya membangkang seperti diperintahkan Allah Ta‘ala kepadanya dengan menasihatinya tanpa mencaci-maki atau menjelek-jelekkannya. Jika istri tidak taat kepadanya, ia pisah ranjang dengannya. Jika istri tetap tidak taat, ia berhak memukul dengan pukulan yang tidak melukainya, tidak mengucurkan darah, tidak meninggalkan luka, dan membuat salah satu organ tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya, karena firman Allah Ta‘ala,"Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).Sabda Rasulullah saw. kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hak istri atas dirinya, "Hendaknya engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR Abu Daud dengan sanad yang baik).Sabda Rasulullah saw., "Ketahuilah bahwa hak-hak wanita-wanita atas kalian ialah hendaknya kalian berbuat baik kepada mereka dengan memberi mereka makan dan pakaian."Sabda Rasulullah saw., "Laki-laki Mukmin tidak boleh membenci wanita Mukminah. Jika ia membenci sesuatu pada pisiknya, ia menyenangi lainnya." (HR Muslim dan Ahmad).2. Mengajarkan persoalan-persoalan yang urgen dalam agama kepada istri jika belum mengetahuinya, atau mengizinkannya menghadiri forum-forum ilmiah untuk belajar di dalamnya. Sebab, kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama, dan menyucikan jiwanya itu tidak lebih sedikit dan kebutuhannya terhadap makanan, dan minuman yang wajib diberikan kepadanya. Itu semua berdasarkan dalil-dalil berikut:Firman Allah Ta‘ala, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (At-Tahrim: 6).Wanita termasuk bagian dan keluarga laki-laki, dan penjagaan dirinya dan api neraka ialah dengan iman, dan amal shalih. Amal shalih harus berdasarkan ilmu, dan pengetahuan sehingga ia bisa mengerjakannya seperti yang diperintahkan syariat.Sabda Rasulullah saw., "Ketahuilah, hendaklah kalian memperlakukan wanita-wanita dengan baik, karena mereka adalah ibarat tawanan-tawanan pada kalian." (Muttafaq Alaih).Di antara perlakuan yang baik terhadap istri ialah mengajarkan sesuatu yang bisa memperbaiki kualitas agamanya, menjamin bisa istiqamah (konsisten) dan urusannya menjadi baik.3. Mewajibkan istri melaksanakan ajaran-ajaran Islam beserta etika-etikanya, melarangnya buka aurat dan berhubungan bebas (ikhtilath) dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, memberikan perlindungan yang memadai kepadanya dengan tidak mengizinkannya merusak akhlak atau agamanya, dan tidak membuka kesempatan baginya untuk menjadi wanita fasik terhadap perintah Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, atau berbuat dosa, sebab ia adalah penanggung jawab tentang istrinya dan diperintahkan menjaganya, dan mengayominya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita." (An-Nisa' 34).Dan berdasarkan sabda Rasulullah saw., "Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan diminta pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya." (Muttafaq Alaih).4. Berlaku adil terhadap istrinya dan terhadap istri-istrinya yang lain, jika ia mempunyai istri lebih dan satu. Ia berbuat adil terhadap mereka dalam makanan, minuman, pakaian, rumah, dan tidur di ranjang. Ia tidak boleh bersikap curang dalam hal-hal tersebut, atau bertindak zhalim, karena ini diharamkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, "Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah) seorang saja, atau budak-budak wanita yang kalian miliki." (An-Nisa': 3).Rasulullah saw. mewasiatkan perlakuan yang baik terhadap istri-istri dalam sabdanya, "Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap keluarganya." (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).5. Tidak membuka rahasia istrinya dan tidak membeberkan aibnya, sebab ia orang yang diberi kepercayaan terhadapnya, dituntut menjaga, dan melindunginya.Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ialah suami yang menggauli istrinya, dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut." (Diriwayatkan Muslim).Hak-hak Suami atas IstriTerhadap suaminya, seorang istri harus menjalankan etika-etika berikut ini:1. Taat kepadanya selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Th ‘ala, karena dalil-dalil berikut:Firman Allah Ta‘ala, "Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).Sabda Rasulullah saw., "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istrinya tidak datang kepadanya, dan suaminya pun marah kepadanya pada malam itu, maka istrinya dilaknat para malaikat hingga pagi harinya." (Muttafaq Alaih)."Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim. At-Tirmidzi meng-shahih-kan hadits mi).2. Menjaga kehormatan suaminya, kemuliaanya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya, karena dalil-dalil berikut:Firman Allah Ta'ala, "Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).Sabda Rasulullah saw., "Seoranq istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan anaknya." (Muttafaq Alaih).Sabda Rasulullah saw., "Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan mereka tidak boleh memberi izin masuk ke rumah kepada orang orang yang tidak kalian sukai." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).3. Tetap berada di rumah suami, dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya, karena dalil-dalil berikut:Firman Allah Ta‘ala, "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (Al-Ahzab: 33)."Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Al-Ahzab: 32)."Allah tidak menyukai ucapan buruk." (An-Nisa': 148)."Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya'." (An-Nuur: 31).Sabda Rasulullah saw., "Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu." (HR Muslim dan Ahmad).Sabda Rasulullah saw., "Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid, engkau jangan melarangnya." (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).

Wednesday, April 21, 2010

indahnya cinta di hati ( to deF4)

Senja datang ketika sang surya mulai menghilang…Ku lihat indah bintang – bintang senja di sela – sela padang ilalangHati ini berkata, diri ini bicara…Aku ingin pulangKu bayangkan indah senyummu menyapa lembut di sanubarikuAnginpun berbisik indah nan merdu di telingakuDengan senyum indahmu….,kubayangkan dikau datang menyambutkuAku tahu apa yang ada dalam relung hati iniAku sadar bahwa kau akan menungguku disiniAku titipkan salam rindu dari lubuk hati ini, bahwa aku akan kembaliDiiringi lambaian nyiur hijau di tepi pantaiKulangkahkan kaki kecilku melewati terjalnya karang – karang hatiKetika samar kubayangkan dirimu di hati, lirih kudengar bisikmu disiniAku…masih menunggumu disiniKuterdiam…Sendiri.., diselimuti dinginnya angin malamDitemani indahnya langit penuh cahaya bintangKudengar merdu nyanyian burung yang saling bersahutanKulihat indah kunang – kunang menari bersama cahaya di kegelapan malamAku termenung sendiri…menapaki takdir Illahi RobbiAku Menunggumu disini…menanti jawaban yang belum pastiAkhirnya aku sadar,sejauh apapun diri ini menghadapi hidup iniHanya kepangkuan-MU lah diri ini pasti kembali

Sunday, April 18, 2010

Indahnya berumah tangga

عَن اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: تَنْكِحُ المرَأَةَ لِاَرْبَعٍ , لمِاَلهِاَ وَلحِِسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فاَطْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنَ تَرَبَتْ يَدَاكَ(رواه الشيخان)- متفق عليه -Maksud :“ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahawasanya Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Seseorang perempuan itu dipilih untuk menjadi isteri berdasarkan kepada empat ciri-ciri iaitu kerana harta bendanya, kerana keturunannya (kemuliaan keturunan), kerana kecantikannya, kerana pegangan agamanya. Kerana itu pilihlah (berikanlah keutamaan) kepada perempuan yang berpegang teguh kepada agama, nescaya kamu bertuah (beruntung). ( Hadith riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim.)Sesungguhnya perkahwinan itu merupakan suatu fitrah semulajadi dalam kehidupan manusia bagi memelihara keturunan, sifat ingin dikasihi dan hidup bersama untuk memperolehi kasih sayang, ingin menjalinkan cinta yang berterusan dan ketenangan dalam hati. Namun bagi sesebuah rumahtangga muslim yang bahagia itu ianya bermula dengan pemilihan jodoh yang tepat seperti mana yang dianjurkan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dalam hadith di atas.Bagi mereka yang merancang ingin mendirikan rumahtangga muslim yang bahagia, aspek pemilihan jodoh yang tepat adalah sangat penting. Ini kerana, perkongsian hidup yang lahir nanti akan menentukan nasib sesudah berumahtangga dan menentukan corak hidup dalam masyarakat sama ada mendapat keredhaan Allah SWT atau sebaliknya. Bagi mereka yang bijak, sudah tentu akan mengutamakan calon isteri atau calon suami yang beriman kepada Allah SWT. Apa gunanya hidup kita, sekiranya kehidupan selepas berumahtangga menjadikan diri kita lebih jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.Apakah hikmah di sebalik saranan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam memberikan panduan dalam memilih jodoh dengan mengutamakan calon isteri solehah atau suami yang soleh itu? Hikmahnya ialah dengan mempunyai nilai keagamaan itulah seseorang itu dapat memiliki akhlak yang baik, menjadi contoh tauladan kepada anak-anak dan saling bantu membantu dalam rangka untuk membina rumahtangga yang diredhai Allah SWT. Alangkah bahagianya pasangan suami isteri apabila kehidupan alam rumahtangganya sentiasa mendapat rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Semua pasangan suami isteri mengidamkan kehidupan rumahtangga yang bahagia, tetapi persoalannya di manakah letaknya kebahagiaan rumahtangga tersebut?Adakah dengan mempunyai kekayaan dan memiliki segala-galanya, kehidupan seseorang itu sudah dianggap bahagia? Berapa banyak sebenarnya kes penceraian yang berlaku setiap tahun di kalangan mereka yang kononnya mempunyai kemewahan hidup semakin ketara? Jadi di manakah kebahagiaan itu sebenarnya ?Sebenarnya kebahagiaan rumahtangga yang bahagia itu telah jelas ditunjukkan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam sendiri. Segala-galanya bermula dengan niat yang ikhlas sebelum mendirikan rumahtangga iaitu membina rumahtangga itu adalah semata-mata ingin mencari keredhaan Allah SWT, bukan disebabkan faktor atau dorongan yang lain. Tetapi berapa ramai yang menjadikan matlamat hidup ini untuk mencari keredhaan Allah SWT? Di mana letaknya keberkatan dalam berumahtangga? Apakah pasangan itu sekufu dan apakah neraca yang digunapakai dalam penentuan sekufu atau tidak?Sekufu di sisi Islam adalah sekiranya pasangan suami isteri mempunyai kefahaman Islam dan matlamat hidup yang jelas, tahu akan tanggangujawab masing-masing bahawa membina rumahtangga muslim itu adalah suatu ibadah, saling merindui rumahtangga yang dirahmati dan diberkati Allah SWT, suami isteri yang saling nasihat menasihati antara satu sama lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, cuba mewujudkan suasana rumahtangga yang harmoni, suami yang memberikan didikan agama kepada isteri dan ingatlah isteri yang solehah boleh membawa suami ke syurga.Apakah rahsia membentuk rumahtangga muslim yang bahagia? Ingatlah para isteri yang dikasihi Allah SWT, antara ciri-ciri sifat isteri yang solehah itu apabila dia taat kepada Allah SWT, Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dan suaminya. Selain itu, menjaga sembahyang lima waktu, berpuasa dan menjaga maruahnya. Maka masuklah dia ke dalam syurga mengikut mana-mana pintu yang disukainya. Berazamlah untuk menjadi isteri yang solehah. Sebaik-baik pemberian ke atas sesebuah rumahtangga itu ialah isteri yang solehah agar dapat membina keluarga sakinah.Begitu juga, para suami yang soleh, mereka adalah ketua dan pemimpin keluarga, mengajarkan ahli keluarga ilmu-ilmu fardu ain dan ilmu fardu kifayah agar tidak membiarkan isteri mereka berada dalam kejahilan. Suami yang soleh juga akan memberikan makan, minum, pakaian, kemudahan tempat tinggal, memberikan perlindungan dan melayani isteri dengan baik. Suami juga perlu banyak bersabar, menunjukkan contoh yang baik, memberikan nasihat dan tunjuk ajar kepada isterinya, mendidik, menegur isteri dengan penuh berhikmah, saling berlapang dada dan pemaaf.Namun, apa yang dibimbangi ialah janganlah disebabkan apabila seseorang selepas alam berumahtangga membuatkan dirinya semakin jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Semasa bujangnya beliau terkenal dengan kuat sembahyang sunat, puasa sunat, berzikir dan bersedekah telah berubah. Kehidupannya berubah menjadi seorang leka dan selalu menyibukkan diri dengan anak isteri, bekerja keras untuk mengumpul harta dan mengejar kemewahan semata-mata untuk keluarga. Alangkah ruginya hidup yang fana ini sekiranya apabila memasuki gerbang rumahtangga itu menjadikan dirinya semakin jauh dari Allah SWT. Titik tolak kebahagiaan rumahtangga adalah bermula dengan pemilihan jodoh yang tepat seperti mana yang disarankan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam.

Mencintai Dan Menyayangi

Sebagai manusia, kadang-kadang iseri hanyut dalam arus kemarahan dan membuat sesuatu yang ganjil. Dengan sebab tertentu ia merubah sikap terhadap suaminya. Suami merasakan kemarahan tersebut dan menerima dengan lapang dada. Dia bersabar dan bersikap mulia. Kefahaman yang dalam akan hakikat kejadian wanita membuat suami bertoleransi terhadap isteri.
Rasulullah s.a.w pernah menunjukkan sikap lembutnya terhadap Hafsah ketika Hafsah berpaling semalaman dari beliau. Umar r.a memarahi Hafsah dengan keras, kerana menganggap anaknya itu berani berpaling daripada Rasulullah s.a.w. Keluhan Umar r.a disampaikan kepada Rasulullah s.a.w. Tetapi Rasulullah s.a.w menanggapinya dengan senyum simpul. Seorang suami tidak sepatutnya untuk tidak mahu kalah dalam semua hal, kecuali hal-hal yang prinsip. Untuk hal-hal yang tertentu suami perlu menerima keluhan rasa kesal iseri dengan rasa dan sifat keterbukaan.
Suatu ketika beberapa isteri sahabat mengelilingi Rasulullah s.a.w, mengadukan persoalan peribadi. Mereka menyatakan suami-suami mereka terlalu bersifat kasar. (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah ). Pada hal dalam firman allah s.w.t menyatakan: (4:19)
Dalil ayat ini menyuruh para suami untuk mampu berlapang dada, menerima fitrah basyariyah wanita. Rasulullah pernah bersabda (bermaksud) :-
استو صوا با لنساء خيرا , فا ن المرأة خلقت من ضلع, وان أعوج ما فى الضلع أ علا ه, فا ن ذهبت تقيمه كسرته , وان تر كته لم يزل أعوج, فا ستو صوا با لنساء
“ Berwasiatlah kamu dengan cara yang baik kepada wanita sebab mereka dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bahagian yang paling bengkok di dalam tulang rusuk itu adalah bahagian yang paling atas. Jika kamu hendak meluruskannya secara keras dan paksa nescaya kamu akan mematahkan dia dan jika kamu membiarkan dia demikian, ia akan sentiasa bengkok. Maka berwasiatlah kamu dengan baik terhadap wanita “
(HR Bukhari dan Muslim )
Suami yang berlapang dada, sabar atau menerima beberapa kelemahan sifat manusiawi wanita akan menjadi simbol kejayaan rumahtangga.
Dia dapat menyesuaikan diri dengan permasalahan kehidupan berkeluarga. Dia tahu bagaimana mengatasi dan mengelolakan konflik dalaman dan pergeseran hubungan suami isteri. Dia tahu pula bagaimana cara menyelamatkan lubuk jiwa isterinya dengan bijak, lembut dan cerdik. Dia menghormati isteri di hadapan anak-anaknya.

Berlapang Dada

Sebagai manusia, kadang-kadang iseri hanyut dalam arus kemarahan dan membuat sesuatu yang ganjil. Dengan sebab tertentu ia merubah sikap terhadap suaminya. Suami merasakan kemarahan tersebut dan menerima dengan lapang dada. Dia bersabar dan bersikap mulia. Kefahaman yang dalam akan hakikat kejadian wanita membuat suami bertoleransi terhadap isteri.
Rasulullah s.a.w pernah menunjukkan sikap lembutnya terhadap Hafsah ketika Hafsah berpaling semalaman dari beliau. Umar r.a memarahi Hafsah dengan keras, kerana menganggap anaknya itu berani berpaling daripada Rasulullah s.a.w. Keluhan Umar r.a disampaikan kepada Rasulullah s.a.w. Tetapi Rasulullah s.a.w menanggapinya dengan senyum simpul. Seorang suami tidak sepatutnya untuk tidak mahu kalah dalam semua hal, kecuali hal-hal yang prinsip. Untuk hal-hal yang tertentu suami perlu menerima keluhan rasa kesal iseri dengan rasa dan sifat keterbukaan.
Suatu ketika beberapa isteri sahabat mengelilingi Rasulullah s.a.w, mengadukan persoalan peribadi. Mereka menyatakan suami-suami mereka terlalu bersifat kasar. (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah ). Pada hal dalam firman allah s.w.t menyatakan: (4:19)
Dalil ayat ini menyuruh para suami untuk mampu berlapang dada, menerima fitrah basyariyah wanita. Rasulullah pernah bersabda (bermaksud) :-
استو صوا با لنساء خيرا , فا ن المرأة خلقت من ضلع, وان أعوج ما فى الضلع أ علا ه, فا ن ذهبت تقيمه كسرته , وان تر كته لم يزل أعوج, فا ستو صوا با لنساء
“ Berwasiatlah kamu dengan cara yang baik kepada wanita sebab mereka dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bahagian yang paling bengkok di dalam tulang rusuk itu adalah bahagian yang paling atas. Jika kamu hendak meluruskannya secara keras dan paksa nescaya kamu akan mematahkan dia dan jika kamu membiarkan dia demikian, ia akan sentiasa bengkok. Maka berwasiatlah kamu dengan baik terhadap wanita “
(HR Bukhari dan Muslim )
Suami yang berlapang dada, sabar atau menerima beberapa kelemahan sifat manusiawi wanita akan menjadi simbol kejayaan rumahtangga.
Dia dapat menyesuaikan diri dengan permasalahan kehidupan berkeluarga. Dia tahu bagaimana mengatasi dan mengelolakan konflik dalaman dan pergeseran hubungan suami isteri. Dia tahu pula bagaimana cara menyelamatkan lubuk jiwa isterinya dengan bijak, lembut dan cerdik. Dia menghormati isteri di hadapan anak-anaknya.
Pemimpin Yang Baik
Kecerdikan dan sikap menerima kekurangan isteri akan meningkatkan maruah suami di hadapan isteri. Dalam memperbaiki kekurangan isteri, suami akan membaiki secara lemah lembut. Kepimpinan yang baik (suami) dalam keluarga adalah kecontohan dan perlaksanaan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته الامام راع ومسئول عن رعيته والرجل راع فى أهله وهو مسئول عن رعيته والمرأة راعيته فى بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها والخا دم راع فى ما سيده ومسئول عن رعيته قال وحسبت أن قد قال والرجل راع فى مال أبيه ومسئول عن وعيته وكلكم راع ومسئول عن رعيته
Hadis Ibnu Umar r.a: Diriwayatkan daripada Nabi s.a.w katanya: Baginda telah bersabda: Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang pemerintah adalah pemimpin manusia dan dia akan bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi ahli keluarganya dan dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Manakala seorang isteri adalah pemimpin rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Seorang hamba adalah penjaga harta tuannya dan dia juga akan bertanggungjawab terhadap jagaannya. Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin dan akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin
(HR Bukhari dan Muslim )
Islam menuntut kaum lelaki agar bergaul secara ihsan dengan isteri. Islam juga menyuruh Isteri agar patuh dan taat setia kepada suaminya dalam batas-batas yang halal. Dengan demikian kisah-kisah cinta suami isteri sentiasa berada dalam